hutan indonesia

Featureddiy.com – Hutan Indonesia paru paru dunia merupakan hutan yang menduduki urutan ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis dan sumbangan dari hutan hujan (rain forest) Kalimantan dan Papua.

Menurut data Forest Watch Indonesia (FWI), sebuah lembaga independen pemantau hutan Indonesia, sejumlah 82 hektare luas daratan Indonesia masih tertutup hutan.

Ini merupakan satu prestasi membanggakan mengingat hutan merupakan salah satu pendukung yang sangat penting bagi keseimbangan alam.

Hutan tropis di Indonesia menyimpan banyak potensi energi mikrobiologi yang sangat di perlukan dunia.

Senior Advisor for Terresterial Policy, The Nature Conservancy, Wahjudi Wardoyo mengatakan energi mikrobiologi sebagai generasi kedua dan ketiga sumber energi di dunia.

Energi mikrobiologi hanya dapat di temukan di hutan hujan tropis dan keanekaragaman hayati Paru-Paru Dunia.

Melihat betapa pentingnya hutan bagi masa depan, namun betapa memprihatinkan mengingat laju kehilangan hutan di Indonesia begitu cepat.

hutan indonesia

Data kehilangan tutupan pohon tahun 2015 yang di olah oleh Laboratorium Global Land Analysis & Di scovery (GLAD) dari Universitas Maryland.

Menunjukkan bahwa kehilangan tutupan pohon di Indonesia tetap tinggi antara tahun 2001 dan 2015.

Angka kehilangan tutupan pohon ini bahkan belum mempertimbangkan secara keseluruhan data kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi di penghujung tahun 2015.

Kehilangan tutupan hutan di Indonesia meningkat tajam di tahun 2012, yakni seluas 928.000 hektar (2,3 juta acre).

Angka ini kemudian turun secara signifikan pada 2013 dan kemudian meningkat kembali pada 2014 dan 2015

Yakni masing-masing seluas 796.500 hektar (2 juta acre) dan 735.000 hektar (2,8 juta acre).

Kelapa Sawit

Dana Lingkungan Hidup, World Wildlife Fund, memprediksi Kalimantan akan kehilangan 75 persen luas wilayah hutannya pada 2020 menyusul tingginya laju deforestasi.

Dari sekitar 74 juta hektar hutan yang di miliki Kalimantan, hanya 71% yang tersisa pada 2005.

Sementara jumlahnya pada 2015 menyusut menjadi 55%.

Jika laju penebangan hutan tidak berubah, Kalimantan di yakini akan kehilangan 6 juta hektar hutan hingga 2020.

Artinya hanya kurang dari sepertiga luas hutan yang tersisa.

Sungguh miris sekali melihat kondisi hutan yang gunduli dan di tanami tanaman kelapa sawit.

Padahal seperti yang kita tahu bawa kelapa sawit banyak menyisakan kerusakan pada tanah.

Sekitar 45% kelapa sawit di impor oleh Eropa untuk memproduksi biodiesel.

Pengguna minyak sawit untuk biodiesel meningkat enam kali lipat antara tahun 2010-2014.

Jumlah minyak sawit yang di impor Eropa dari Indonesia tahun 2012 saja membutuhkan lahan produksi seluas 7000 kilometer persegi.

Bayangkan, kawasan seluas itu bisa di jadikan habitat untuk sekitar 5000 orangutan.

Ambisi Eropa mengurangi jejak karbonnya menjadi petaka untuk hutan Indonesia.

Demi membuat bahan bakar kendaraan yang ramah lingkungan, benua biru itu mengimpor minyak sawit di Indonesia dalam jumlah besar.

Habitat dan Populasi Terancam

Pembalakan hutan serta kebakaran hutan menjadi ancaman utama bagi habitat dan populasi orang utan.

Menurut data tahun 2008, di Kalimantan hidup sekitar 56.000 orang utan di alam liar.

Namun akibat pembalakan hutan, dan di perparah dengan kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun.

Populasi orang utan saat ini di perkirakan tinggal 30.000 – 40.000.

Menurut Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF), 16 bayi orang utan yang berada di hutan rehabilitasi di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, mengalami masalah kesehatan akibat paparan kabut asap.

Belum ada informasi berapa ekor orangutan yang menjadi korban tewas akibat kebakaran hutan.

Namun BOSF meyakini banyak orangutan yang tidak mampu menyelamatkan diri dari kebakaran yang melanda hutan.

Sejak kabut asap yang di picu kebakaran hutan terjadi, orang utan juga kerap terlihat masuk pemukiman warga.

Sebenarnya, orang utan di kenal sebagai hewan pemalu dan berusaha untuk menghindari kontak dengan manusia paru paru dunia.

Tapi karena habitatnya rusak atau musnah akibat kebakaran hutan, kini orang utan turun hingga ke permukiman penduduk untuk mencari makan dan bertahan hidup.

Hutan Indonesia menyimpan keragaman hayati paling kaya di Bumi dengan 30 juta jenis flora dan fauna.

Sebagai paru-paru Bumi, hutan tidak cuma memproduksi oksigen, tapi juga menyimpan gas rumah kaca.

Ilmuwan mencatat, luas hutan yang menghilang di seluruh dunia setiap enam tahun melebihi dua kali luas pulau Jawa.

Lalu bagaimana agar hal itu tidak terus berlanjut?

Daur Ulang Kertas

Produksi kertas jika di lakukan dengan mendaur ulang kertas membutuhkan energi yang jauh lebih sedikit.

Satu ton sampah kertas yang di daur ulang menjadi kertas baru menghemat air sebanyak 7.000 galon 628,5 galon bahan bakar, dan 4000 Kwh listrik (Onondaga Resource Recovery Center).

Selain itu, mendaur ulang satu ton sampah kertas akan menyelamatkan 17 batang pohon (Purdue Research Foundation and US Environmental Protection Agency, 1996).

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, pada tahun 2017 luas hutan di Indonesia sebesar 133.300.543 hektar.

Luas hutan di Indonesia pada tahun 2045 akan bertambah sebanyak 16.148.000 hektar apabila produksi kertas dari daur ulang, bukan dari penebangan batang pohon.

Positifnya, julukan Indonesia sebagai paru-paru dunia akan melekat abadi dengan total luas hutan sebesar 149.484.543 hektar pada tahun 2045.

BACA JUGA

Pentingnya Monitoring Kualitas Udara Pegunungan

By admin